scalling adalah tindakan untuk mengilangkan karang gigi yang berapa di subgingiva maupun supra gingiva. karang gigi atau kalkulus adalah deposit yang mengeras pada permukaan gigi sehingga menimbulkan permukaan yang kasar scalling merubakan dasar dari keberhasilan semua tindakan periodontal, sebab itulah sscalling masuk dalam fase ininitial yang sangat perlu di perhatikan scaaling ini tidak bisa di pisahkan dengan root planning ... saat melakukan scalling dilakukan juga root planing root planing adalah menghilang sisa kalkulus yang berada di akar gigi, sehingga menjadikan akar yang halus dan sehat scalling terdapat 2 jenis,yakni scalling manual dan scalling USS

Pada umumnya struktur umum bahan kedokteran gigi yang sering digunakan dapat berbentuk

·         Padat

·         Cair

·         Gas (biasa untuk anastesi)

A.     Struktur Padatan

Struktur padatan pada kedokteran gigi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu

1)      Berkristal

Bahan padatan kristal ini biasanya juga disebut dengan cristallyn. Contoh dari padatan berkristal adalah Ag  dan Au. Padatan kristal ini tersusun secara teratur (geometris) dalam suatu kisi kristal (space lattia/crystalattice). Atom atom dapat terikat satu sama lain akarena adanya ikatan ion, ikatan kovalen dan ikatan logam. Terdapat 14 kemungkinan jenis atom atau pola geometris dari padatan kristal namun keanyakan bahan berkristal dalam kedokteran gigi memiliki system kubik, yang terbagi menjadi 3 jenis

a)       Body Centeres Cubic (BCC)

Unit sel berbentk kubus dengan semua atom tiap sudut dan terdapat pada pusat. Biasanya dapat dijumpai pada beberapa logam. Misalnya besi (Fe) dengan suhu dibawah 910

b)      Face Centered Cubic (FCC)

Unit sel berbentuk kubus dengan atom berapada di tiap sudut dan pertengahan tapi tidak dipusat ( pada permukaan). Contohnya adalah besi (Fe) dengan suhu diatas 910, emas, perak, platinum, temagadan palladium

c)       Hexagonal Closed Packed Surfice (HCPS)

Erentuk hezagonal terdapat terdapat pada zinc dan magnesium

Struktur padatan yang telah diuaraikan akan membentuk bentuk ideal. Namun pada kenyataannya sering terkjadi bentuk bentuk yang tidak sempurna dan dapat mempengaruhi bahan misalnya dapat menimbulkan kerusakan berupa bentuk titik, bentuk garis/ dislokasi/pergeseran, serta dapat berbentuk bidang

a)       Kerusakan bentuk titik

Pada kerusakan ini biasaterjadi impury, atau terjadi distorsi yang bengakibatkan terjadinya perubahan pada kisi kristal. Selain itu juga dapat mengakibatkan kehampaan (void ) atau ruang yang kosong atau rongga yang memungkinkan atom bergerak dalam kristal

b)      Kerusakan bentuk garis

Kerusakan ini menyebabkan mudah patahnya suatu bahan keramik dan juga menyebabkan terjadinya deformasi plastis bahan logam

c)       Kerusakan bentuk bidang

Mengakibatkan adanya asuatu Batasan/ garis kasar dilogam

2)      Padatan Amorf

Amorf berarti tanpa bentuk. Disebut tak berbentuk karena tidak terdapat susunan atom, namun hanya eberapa atom yang acak. Contohnya adalah gas, cairan, kaca, polimer dan lilin atau wax

 

 

 



1.       Resin komposit

a.       Defisini Resin Komposit

Menurut Anusavice (2013), Resin komposit merupakan suatu material solid yang terbentuk dari dua atau lebih material berbeda (seperti partikel filler yang terlarut dalam matriks polimer) yang menghasilkan sifat lebih baik jika 0dibandingkan dengan sifat masing-masing komponen. pertama kali, resin komposit merupakan perkembangan dari resin akrilik, namun gagal untuk dikembangkan. Sehingga memicu para peneliti di berbagai belahan dunia untuk teruS meneliti dan menginovasi resin komposit. Pada tahun 1962, Dr. Ray L. Bowen mulai mengembangkan tipe material resin komposit yang baru. Inovasi yang dilakukan Oleh Dr. Bowen adalah mengganti resin akrilik dengan bisphenol A glycidyl methacrylate (bis-GMA), dimethakrilat dan silane organik yang disebut dengan coupling agent untuk mengikat antara partikel filler dan matriks resin. Sehingga didapatkan material resin komposit yang bagus dan perkembangan resin komposit Saat ini merupakan lanjutan dari komposit yang dikembangkan Oleh Dr. Bowen pada Tahun 1962. (istikharoh, feni. 2018)

b.      Komposisi resin komposit

Resin komposit memiliki tiga komponen utama yang terdiri dari bahan organik dan anorganik kemudian disatukan oleh bahan interfasial atau coupling agent. Bahan organik yang menyusun komposit adalah resin yang menghasilkan matriks, bahan anorganik yang menyusun komposit adalah filler kemudian kedua unsur ini diikat atau disatkan oleh bahan coupling agent  (Craig, R. 2012)

1)      Matriks resin

Matriks resin tersusun dari monomer aromatic atau aliphatic diakrilat. Dimetakrilat yang sering digunakan adalah Bisphenol-A-Glycidyl Methacrylate (Bis GMA), Uretandimetakrilat (UEDMA) dan tri eltilen glikol dimetakrilat (TEGMA) (Craig, R. 2012)

Kegunaan matriks Glycidyl Methacrylate (Bis GMA) adalah untuk membentuk polimer cross linked yang kuat pada bahan komposit dan mengontrol konsistensi pada resin komposit. Tri eltilen glikol dimetakrilat (TEGMA) adalah matriks yang megatur viskositas dari komposit itu sendiri matriks ini merupakan matriks yang dianggap sebagai faktor internal terjadinya diskolorasi resin komposit. Matriks resin mengandung monomer dengan viskositas tinggi (kental) yaitu BISGMA yang disintesis melalui reaksi antara bisphenol A dan glycidyl methacrylate oleh Bowen. Monomer dengan viskositas rendah juga terkandung didalamnya yaitu TEGDMA dan UDMA. Matriks resin memiliki kandungan ikatan ganda karbon reaktif yang dapat berpolimerisasi bila terdapat radikal bebas (Gajewski, et al., 2012).

2)      Filler ( bahan pengisi )

Partikel bahan anorganik yang ditambahkan pada resin komposit adalah bahan pengisi atau filler. Filler yang berikatan dengan matriks akan meningkatkan sifat bahan mariks tersebut. Filler yang ditambahkan pada komposit secara signifikan akan mengurangi terjadinya pengerutan pada saat polimerisasi, mengurangi penyerapan cairan, ekspansi koefisien panas, serta meningkatkan sifat mekanis diantaranya seperti, kekerasan ,kekuatan, kekakuan, dan ketahanan terhadap abrasi atau pemakaian ( Annusavice, 2013).

 Partikel filler yang digunakan pada resin komposit adalah silika organik. Faktor penting lain dari filler yang perlu diperhatikan adalah banyaknya bahan pengisi yang ditambahkan, ukuran filler yang digunakan dan distribusinya, kekerasan, radiopak. Faktor- faktor tersebut akan mempengaruhi sifat komposit dan aplikasi klinis ( Annusavice, 2013).

3)      Coupling agent aa(bahan pengikat)

Bahan pengikat berfungsi untuk mengikat partikel bahan pengisi dengan resin matriks. Kegunaan bahan pengikat yaitu untuk meningkatkan sifat mekanis dan sifat fisik resin, bahan ini berfungsi untuk mengikat filler ke matriks. Untuk memperbaiki sifat kimia dari resin komposit juga meminimalisasi hilangnya partikel filler akibat penetrasi cairan antara resin dan filler. Bahan coupling memiliki fungsi utama sebagai fasilitator ikatan antara matriks resin dan partikel bahan pengisi (filler). Bahan coupling yang sering digunakan adalah organosilane (3- methacryloxypropyl trimethoxysilane).  (Noort 2013).

c.       Klasifikasi nerdasarkan viskositas

1)      Resin komposit flowable

Resin komposit flowable memiliki sedikit muatan filler dibandingkan resin komposit yang lain(sekitar 50% volume) serta memiliki sifat mekanik yang lebih rendah, dan tingkat polimerization shrinkagetinggi  (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014). Resin komposit flowable mempunyai sifat fisik yang lebih rendah dibandingkan dengan restorasi komposit. Sifat flow yang tinggi memudahkan pengaplikasian resin komposit ini untuk merestorasi kavitas fissure, lesi servikal restorasi pada anak anak dan restorasi yang kecil, restorasi penahan tekanan rendah, restorasi klas V tanpa lesi karies yang dikarenakan oleh abrasi sikat gigi, erosi asam, atau tekanan oklusal seperti bruxisme, yang memicu pengasahan gigi abrasi5. Komposit flowable ini mengerut lebih banyak saat berpolimerisasi daripada komposit hibrid karena resin komposit flowable ini lebih encer. (lestari, sri 2012)

2)      Resin komposit pockable

Resin komposit packable merupakan resin yang diaktifasi cahaya dengan matriks dimetacrilat dan filler berbentuk fiber atau pori atau tidak beraturan yang memiliki muatan filler 66% sampai 80% dari volume seluruhnya. Resin komposit packable memiliki kandungan filler dan viskositas matriks yang lebih tinggi dibandingkan resin komposit yang lain. Resin komposit packable berbentuk memanjang, berserat dengan panjang partikel filler sekitar 100 nm. Hal tersebut dapat meningkatkan sifat kekakuan dan moldabiilitas dalam kavitas selama kondensasi.Interaksi partikel filler dan modifikasi resin menyebabkan komposit tersebut menjadi packable. (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

Karakteristik resin komposit packableyang lainnya yaitu kedalaman sinarnya tinggi, polimerization shrinkage rendah, radiopak, laju keausannya rendah (3,5 mikrometer/tahun), koefisien ekspansi termal mirip dengan struktur gigi dan modulus elastisitasnya hampir sama dengan amalgam. Resin komposit packable tidak lengket seperti resin komposit pada umumnya, karena viskositasnya yang tinggi. Sehingga resin komposit packable dapat ditangani dan ditempatkan dengan teknik aplikasi amalgam, yaitu teknik bulk. Ditambah adaptasi antara layer yang satu dengan yang lainnya buruk. Beberapa resin komposit packable dikemas pada compulesunitPenggunaan resin komposit packable diindikasikan untuk karies kelas 1, 2, dan 6 (MOD). Indikasi utamanya adalah pembentukan kembali kontur dan kontak proksimal kelas 2 serta restorasi anatomi oklusal. Sifat klinis dari komposit packable ini mirip dengan komposit microhybrida.3 Dalam studi in vitro Kelas II, Bagby at all menemukan bahwa resin komposit packable memiliki kesenjangan interproksimal lebih kecil dari hibrida, tetapi tidak sebanding dengan amalgam (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

 

2.       Polimerasi resin komposit

Polimerisasi adalah reaksi kimia yang terjadi ketika monomermonomer resin dengan berat molekul rendah bergabung untuk membentuk rantai panjang yaitu polimer yang memiliki berat molekul tinggi. Proses polimerisasi dimulai oleh aktivator (kimia atau sinar) yang menyebabkan molekul inisiator membentuk radikal bebas (pengisian molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan) (Kareem dan Jehad, 2012).

 Polimerisasi resin komposit adalah polimerisasi adisi yaitu polimerisasi yang tidak menghasilkan produk(nurlatifah, anisa. Dkk. 2014). Keberhasilan polimerisasi resin komposit dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal yaitu jenis alat penyinaran, intensitas sinar, jarak ujung tip LED yang sedekat mungkin dengan permukaan resin komposit, sudut penyinaran dan waktu penyinaran. Waktu penyinaran yang kurang akan mengakibatkan polimerisasi terjadi pada lapisan luar saja dan menghasilkan lapisan lunak pada bagian dasar. Polimerisasi yang sempurna dipengaruhi oleh ketebalan bahan dan waktu penyinaran. Keberhasilan polimerisasi dapat ditentukan dari rasio kekerasan permukaan resin komposit. (siqida, atia. 2018)

a)      Tahab polimerisasi

 

Proses polimerisasi adisi terdiri dari beberapa tahap seperti induksi, propagasi, transfer rantai dan terminasi. Terdapat dua proses pada tahap induksi yaitu aktivasi dan inisiasi. Untuk memulai proses polimerisasi adisi, diperlukan radikal bebas yang dapat dihasilkan dengan aktivasi molekul pembentuk radikal bebas dengan menggunakan bahan kimia lain, panas, cahaya tampak, sinar ultraviolet atau transfer energi dari senyawa lain yang berperan sebagai radikal bebas. Padasistem induksi yang diaktifkan dengan sinar, foton akan mengaktifkan inisiator untuk menghasilkan radikal bebas yang dapat menginisiasi proses polimerisasi.Untuk memicu reaksi tersebut, diperlukan sinar/cahaya dengan panjang gelombang sekitar 470 nm.Radikal bebas yang terbentuk dipengaruhi oleh intensitas dan jarak sumber cahaya (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

1)      Inisiasi

Proses inisiasi adalah proses ketika elektron bebas dari radikal bebas mendekatimolekul metil metakrilat dan salah satu elektron dalam ikatan ganda molekul metakrilat ditarik ke radikal bebas untuk membentuk satu pasang elektron dan suatu ikatan kovalen antara radikal bebas dan molekul monomer. Elektron bebas pada ikatan yang lainnya akan membentuk molekul baru dengan radikal bebas (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

2)      Propagasi

Pada tahap propagasi, hasil reaksi kompleks radikal bebas dengan monomer akan bertindak sebagai radikal bebas yang akan bergabung dengan monomer lain. Proses tersebut terus berlanjut dengan kecepatan tertentu. Reaksi rantai akanberlanjut dengan terbentuknya panas, sampai semua monomer telah diubah menjadi polimer antara initial set dan final set (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

3)      Transfer rantai

Pada tahap transfer rantai, radikal bebas aktif dari rantai yang diperpanjang akan ditransfer ke molekul lain (monomer atau rantai polimer tidak aktif), sehingga terbentuk radikal bebas baru yang akan berkembang (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

 

 

4)      Terminasi

Terminasi atau tahap akhir reaksi polimerisasi adisi yaitu dengan cara penggabungan dua ujung rantai radikal bebas sehingga menciptakan satu rantai polimer. Tahap akhir juga dapat terjadi dengan carapertukaran atom hidrogen dari satu rantai yang aktif ke rantai aktif yang lainnya.(nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

3.       Light curing

Pengerasan resin aktivasi sinar diperlukan light curingunit (LCU) untuk memulai proses polimerisasi. Penggunaan resin komposit yang meningkat menyebabkan penggunaanLCU pun meningkat.Jenis LCU yang sering digunakan saat ini adalah LED (Light Emitting Diode) curing unit dengan waktu penyinaran rata-rata 20-40 detik. Sekarang ini telah berkembang LEDcuring unitdengan intensitas tinggi dan waktu penyinarannya rendah. Pada tahun 2010 diperkenalkan LED curing unitultra high intensitydengan prosedur penyinaran dari produk yaitu 1 detik dan 3 detik dengan intensitas 4000-5000 mW/cm.2,7 Karena waktu penyinarannya yang singkat, LED tersebut menguntungkan operator dan pasien karena pengerjaan di klinik menjadi lebih cepat, namun kekuatannya belum teruji pada resin komposit packable. (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

Tampilan klinis dari resin komposit sangat dipengaruhi oleh kualitas dari light-curing unit yang digunakan.12 Efektivitas prosedur light curing tergantung pada intensitas, spektrum cahaya, desain tip, lama penyinaran, kimia resin, jenis fotoinisiator, lokasi dan orientasi restorasi, bahan-bahan yang memblokir cahaya, dan kemampuan klinisi untuk mengarahkan dan mempertahankan cahaya padaspesimen 90 derajat. Spektrum cahaya yang digunakan dengan bahan komposit light cure berkisar dari sekitar 380 nm sampai 500 nm. (nurlatifah, anisa. Dkk. 2014).

DAFTAR PUSTAKA

1.     Istihkaroh, feni. 2018. Dental resin komposit: teori, instrumensi, dan aplikasi. Malang; UB Press

2.       Handayani, devi dkk. 2016. Efek perendalman rebusan daun sirih merah (piper crocatum) terhadap kekerasan permukaan resin komposit. Jurnal kedokteran gigi.  2(2) 60-65

3.       Nurlatifa, anisa dkk. 2014. Pengaruh lama penyinaran dengan LED unit ultra light intensity terhadap kekuatan Tarik diameter resin komposit pockable. Jurnal FKG UI.  2(1) 91-105

4.       Craig, R(Eds). Restorative Dental Materials. 13TH ed. Missouri: Elsevier.2012.

5.       Gajewski, V. E. S. (2012). Monomers Used in Resin Composites : Degree of Conversion , Mechanical Properties and Water Sorption / Solubility, 23, 508– 514.

6.       Anusavice, K.J., Chiayi, S., Rawls, H.R. 2013. Phillips’ Science of Dental Materials.ed ke-12: Elsevier.

7.       Noort R.V. 2013. Introduction to dental materials. Fourth edition. Elsevier, 95- 103

8.       Lestari, sri. 2012. Efek lama penyinaran terhadap kebocoran tepi tumpatan  komposit flowable. Stomataghatig(J.K.G Unej ) 9(3) 110-113

9.       . Kareem, S.A. dan Jehad, R.H., 2012, An Evaluation of Water Absorption of Giomer in Comparison to Other Resin-based Restorative Material, J Bagh College Dentistry, 24 (3)

10.   Ratih, diatri.2017. kekerasan mikro resin komposit pockable & bulkfill dengan kedalaman kavitas berbeda. Jurnal kedokteran gigi Indonesia. 3(2) 76-82

11.   Sidiqa, atia dkk. 2018. Evaluasi nilai kekerasan resin komposit bulkfill dengan variasi waktu penyinaran sinar LED jurnal material kedokteran gigi. 7(2): 6-10